LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA
KLIEN NY .L DENGAN DIAGNOSA MEDIS CRONIC KIDNEY DISEASE
DI RUANG UPI (UNIT PERAWATAN
INTENSIVE)
RSUD
CARUBAN
MADIUN
Disusun Oleh :
|
Nama
|
NIM
|
|
Atika Wilza
|
04.12.3426
|
|
Nyoman Bagiarta
|
04.12.3452
|
|
Rosyidah Nur Afifah
|
04.12.3458
|
|
Wayan Arjana
|
04.12.3472
|
PROGRAM
STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA
GLOBAL YOGYAKARTA
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Ginjal merupakan organ vital yang
berperan sangat penting sangat penting dalam mempertahankan kestabilan
lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh dan
elektrolit dan asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorbsi
selektif air, elektrolit dan non-elektrolit, serta mengekskresi kelebihannya
sebagai kemih.
Fungsi primer
ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstra sel dalam
batas-batas normal. Komposisi dan volume cairan ekstrasel ini dikontrol oleh
filtrasi glomerulus, reabsorbsi dan sekresi tubulus.
Ginjal dilalui oleh sekitar 1.200 ml darah per menit, suatu volume yang sama
dengan 20 sampai 25 persen curah jantung (5.000 ml per menit). Lebih 90% darah
yang masuk ke ginjal berada pada korteks, sedangkan sisanya dialirkan ke
medulla.
Di negara maju,
penyakit kronik tidak menular (cronic non-communicable diseases)
terutama penyakit kardiovaskuler, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit
ginjal kronik, sudah menggantikan penyakit menular (communicable diseases)
sebagai masalah kesehatan masyarakat utama.
Gangguan fungsi
ginjal dapat menggambarkan kondisi sistem vaskuler sehingga dapat membantu
upaya pencegahan penyakit lebih dini sebelum pasien mengalami komplikasi yang
lebih parah seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan penyakit
pembuluh darah perifer.
Pada penyakit
ginjal kronik terjadi penurunan fungsi ginjal yang memerlukan terapi pengganti
yang membutuhkan biaya yang mahal. Penyakit ginjal kronik biasanya desertai
berbagai komplikasi seperti penyakit kardiovaskuler, penyakit saluran napas,
penyakit saluran cerna, kelainan di tulang dan otot serta anemia.
Selama ini,
pengelolaan penyakit ginjal kronik lebih mengutamakan diagnosis dan pengobatan
terhadap penyakit ginjal spesifik yang merupakan penyebab penyakit ginjal
kronik serta dialisis atau transplantasi ginjal jika sudah terjadi gagal
ginjal. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa komplikasi penyakit ginjal kronik, tidak
bergantung pada etiologi, dapat dicegah atau dihambat jika dilakukan penanganan
secara dini. Oleh karena itu, upaya yang harus dilaksanakan adalah diagnosis
dini dan pencegahan yang efektif terhadap penyakit ginjal kronik, dan hal ini
dimungkinkan karena berbagai faktor risiko untuk penyakit ginjal kronik dapat
dikendalikan.
B. RUMUSAN
MASALAH
Dari latar belakang di atas dapat di ambil rumusan
masalah bagaimana Asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik?
C. TUJUAN
PENULISAN
Memberikan gambaran nyata tentang
pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Ny.L Yang Mengalami Gagal Ginjal Kronik di ruang
UPI RSUD Caruban Madiun.
BAB
II
TINJAUAN TEORI
A.
DEFINISI
Gagal ginjal kronik biasanya akibat
akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)
Kegagalan ginjal kronis terjadi bila
ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan internal yang konsisten
dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan individu
transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban
dan menunggu beberapa tahun. (Barbara C Long, 1996; 368)
Gagal ginjal kronis atau penyakit
renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan
irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan
keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah
nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)
Gagal ginjal kronik merupakan
perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung
beberapa tahun. (Price, 1992; 812)
Gagal ginjal kronis adalah kegagalan
fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan
elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi
penumpukan sisa metabolit ( toksik uremik ) di dalam darah. (Arif
Muttaqin,2011; 166)
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah
suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat
menahun, berlangsung progresif, dan cukup lanjut. Hal ini terjadi apabila laju
filtrasi glomerulus kurang dari 50 ml/menit. (Arjatmo Tjokonegoro,2001;427)
B.
ETIOLOGI
Begitu banyak kondisi klinis yang
bisa menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronis. Akan stetapi apapun sebabnya, respon yang
terjadi adalah penurunan fungsi ginjal secara progresif. Kondisi klinis yang memungkinkan
dapat mengakibatkan GGK bisa disebabkan dari ginjal sendiri dan dari luar
ginjal.
1. Penyakit dari ginjal
a. penyakit pada saringan (glomerulus)
: glomerulonefritis
b. infeksi kuman : pyelonefritis, ureteritis
c. batu ginjal : nefrolitiasis
d. kista di ginjal : polcystis kidney
e. trauma langsung pada ginjal
f. keganasan pada ginjal
g. sumbatan : tumor, batu,
penyempitan/striktur
2. Penyakit umum di luar ginjal
a. penyakit sistemik : diabetes
mellitus, hipertensi, kolesterol tinggi
b. dyslipidemia
c. infeksi di badan : tbc paru,
sifilis, malaria, hepatitis
d. preeklamsi
e. obat-obatan
f. kehilangan banyak cairan yang
mendadak ( luka bakar )
C.
MANIFESTRASI KINIS
Karena pada gagal ginjal kronis
setiap sisem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia, maka pasien akan
memperhatikan sejumlah tanda dan gejala. Keparahan tanda dan gejala bergantung
pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal, kondisi lain yang mendasari, dan usia
pasien.
Manifestasi kardiovaskuler, pada
gagal ginjsl kronis mencakup hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari
aktivasi system rennin-angiotenin-aldosteron), gagal jantung kongestif, dan
edema pulmoner (akibat cairan berlebihan), dan perikarditis (akibat iritasi
pada lapisan pericardial oleh toksin uremik).
Gejala dermatologi yang sering terjadi
mencakup rasa gatal yang parah (pruritis). Butiran uremik, suatu penumpukan
kristal urea di kulit, saat ini jarang terjadi akibat penanganan dini dan
agresif terhadap penyakit ginjal tahap akhir. Gejala gastrointestinal juga
sering terjadi dan mencakup anoreksia, mual, muantah dan cegukan. Perubahan
neuromuskuler mencakup perubahan tingkat kesadaran, ketidak mampuan
berkonsentrasi, kedutan otot dan kejang.
Manifestasi klinik antara lain
(Long, 1996 : 369):
a. Gejala dini : lethargi, sakit
kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung,
depresi
b. Gejala yang lebih lanjut :
anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada
kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada
tapi mungkin juga sangat parah.
Manifestasi klinik menurut
(Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan
natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin – aldosteron), gagal jantung
kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat
iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual,
muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak
mampu berkonsentrasi).
Manifestasi klinik menurut Suyono
(2001) adalah sebagai berikut:
a.
Sistem
kardiovaskuler
•Hipertensi
• Pitting edema
• Edema periorbital
• Pembesaran vena leher
• Friction sub pericardial
b. Sistem Pulmoner
• Krekel
• Nafas dangkal
• Kusmaull
• Sputum kental dan liat
c.
Sistem
gastrointestinal
• Anoreksia, mual dan muntah
• Perdarahan saluran GI
• Ulserasi dan pardarahan mulut
• Nafas berbau ammonia
d. Sistem musculoskeletal
• Kram otot
• Kehilangan kekuatan otot
• Fraktur tulang
e.
Sistem
Integumen
• Warna kulit abu-abu mengkilat
• Pruritis
• Kulit kering bersisik
• Ekimosis
• Kuku tipis dan rapuh
• Rambut tipis dan kasar
f.
Sistem
Reproduksi
• Amenore
• Atrofi testis
Mekanisme yang pasti untuk setiap
manifestasi tersebut belum dapat diidentifikasi.
Namun demikian produk sampah uremik
sangat dimungkinkan sebagai penyebabnya.
D.
PATHWAY
Sekresi protein terganggu
|
Sekresi eretropoitin turun
|
Suplai Nutrisi dlm darah turun
|
Urokrom tertimbun di kulit
|
Kerusakan
Integritas Kulit
|
Ketidakseimbangan
Nutrisi < dari kebutuhan tubuh
|
Hipertrovi ventrikel kiri
|
Bendungan Atrium sinistra
|
Ketidakefektifan
perfusi jarinngan perifer
|
Suplai darah ginjal turun
|
E.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
. Laboratorium :
a. Laju Endap Darah : Meninggi yang
diperberat oleh adanya anemia, dan hipoalbuminemia. Anemia normositer
normokrom, dan jumlah retikulosit yang rendah.
b. Ureum dan kreatini : Meninggi,
biasanya perbandingan antara ureum dan kreatinin kurang lebih 20 : 1.
Perbandingat meninggi akibat pendarahan saluran cerna, demam, luka bakar luas,
pengobatan steroid, dan obstruksi saluran kemih. Perbandingan ini berkurang ketika ureum lebih kecil dari kreatinin, pada
diet rendah protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
c. Hiponatremi : Umumnya karena
kelebihan cairan. Hiperkalemia : biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut
bersama dengan menurunya dieresis
d. Hipokalemia dan hiperfosfatemia:
terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin D3 pada GGK.
e. Phosphate alkaline : meninggi
akibat gangguan metabolisme tulang, terutama isoenzim fosfatase lindi tulang.
f. Hipoalbuminemia dan
hipokolesterolemia : umunya disebabkan gangguan metabolisme dan diet rendah
protein.
g. Peninggian gula darah, akibat
gangguan metabolism karbohidrat pada gagal ginjal ( resistensi terhadap
pengaruh insulin pada jaringan perifer ).
h.Hipertrigliserida, akibat gangguan
metabolisme lemak, disebabkan peninggian hormone insulin dan menurunnya
lipoprotein lipase.
i. Asidosis metabolic dengan
kompensasi respirasi menunjukan Ph yang menurun, BE yang menurun, HCO3 yang
menurun, PCO2 yang menurun,
semuanya disebabkan retensi asam-asam organic pada gagal ginjal.
2. Radiology
Foto
polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal ( adanya batu atau adanya
suatu obstruksi ). Dehidrasi karena proses diagnostic akan memperburuk keadaan
ginjal, oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa.
3. IIntra Vena Pielografi (IVP)
Untuk menilai system
pelviokalisisdan ureter.
4. USG
Untuk menilai besar dan bentuk
ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi system
pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih dan prostat.
5. EKG
Untuk melihat kemungkinan hipertropi
ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis, aritmia, gangguan elektrolit
(hiperkalemia)
F.
KOMPLIKASI
Menurut Smeltzer (2000), komplikasi
potensial gagal ginjal kronik yang memerlukan pendekatan kolaboratif dalam
perawatan, mencakup :
- Hiperkalemia : akibat penurunan
ekskresi, asidosis metabolik, katabolisme dan masukan diet berlebih.
- Perikarditis : efusi perikardial ,
dan tamponade jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang
tidak adekuat.
- Hipertensi akibat retensi cairan
dan natrium serta mal fungsi sistem renin, angiotensin, aldosteron.
- Anemia : akibat penurunan
eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah merah, perdarahan gastro
intestinal.
- Penyakit tulang serta kalsifikasi
metastatik akibat retensi fosfat.
G.
PENATALAKSANAAN MEDIS
Tujuan penatalaksanaan pada gagal
ginjal kronik adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama
mungkin. Semua factor yang berperan dalam terjadinya gagal ginjal kronik dicari
dan diatasi.
Adapun penatalaksanaannya yaitu :
Penatalaksanaan konservatif, Meliputi pengaturan diet, cairan dan garam,
memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa, mengendalikan
hiperensi, penanggulangan asidosis, pengobatan neuropati, deteksi dan mengatasi
komplikasi. Dan penatalaksanaan pengganti diantaranya dialysis (hemodialisis,
peritoneal dialysis) transplantasi ginjal.
Selain
itu tujuan penatalaksanaan adalah menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit
dan mencegah komplikasi yaitu sebagai berikut :
1. Dialisis
Dialysis dapat dlakukan untuk
mencegah komplikasi gagal ginjal yang serius, seperti hiperkalemia,
perikarditis, dan kejang. Dialysis memperbaiki abnormalitas biokimia,
menyebabkan cairan, protein, dan natrium dapat dikonsumsi sevara bebas,
menghilangkan kecenderungan pendarahan, dan membantu menyembuhkan luka.
2. Koreksi hiperkalemi
Mengendalikan kalium darah sangat
penting karena hiperkalemi dapat menimbulkan kematian mendadak. Hal yang
pertama harus diingat adalah jangan menimbulkan hiperkalemia. Selain dengan
pemeriksaan darah, hiperkalemia juga dapat didiagnosis dengan EEG dan EKG. Bila
terjadi hiperkalemia, maka pengobatannya adalah dengan mengurangi intake
kalium, pemberian Na Bikarbonat, dan pemberian infuse glukosa.
3. Koreksi anemia
Pengendalian gagal ginjal pada
keseluruhan akan dapat meninggikan Hb. Transfusi darah hanya dapat diberikan
bila ada indikasi yang kuat, missal pada adanya insufisiensi koroner.
4. Koreksi asidosis.
Pemberian asam melalui makanan dan
obat-obatan harus dihindari. Natrium bikarbonat dapat diberikan peroral atau
parenteral. Hemodialisis dan dialysis peritoneal dapat juga mengatasi asidosis
5. Pengendalian hipertensi
Pemberian obat beta bloker, alpa
metildopa, dan vasodilator dilakukan. Mengurangi intake garam dalam
mengendalikan hipertensi harus hati-hati karena tidak semua gagal ginjal
disertai retensi natrium.
6. Transplantasi ginjal
Dengan pencangkokan ginjal yang
sehat ke pasien GGK, maka seluruh faal ginjal diganti oleh ginjal yang baru.
H.
ASKEP TEORI
1 Pengumpulan
data
Anamnesa
Anamnesa
adalah mengetahui kondisi pasien dengan cara wawancara atau interview.
Mengetahui kondisi pasien untuk saat ini dan masa yang lalu.
Anamnesa
mencakup identitas pasien, keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang, riwayat
kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat imunisasi, riwayat
kesehatan lingkungan dan tempat tinggal.
1. Identitas
Meliputi
identitas klien yaitu : nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, suku/bangsa, golongan darah,
tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, No. RM, diagnose medis, dan alamat.
Identitas
penanggung jawab : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
hubungan dengan klien, dan alamat.
2. Keluhan utama
Kapan
keluhan mulai berkembang, bagaimana terjadinya, apakah secara tiba-tiba atau
berangsur-angsur, apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan, obat
apa yang digunakan.
Keluhan
utama yang didapat biasanya bervariasi, mulai dari urine output sedikit sampai
tidak dapat BAK, gelisah sampai penurunan kesadaran, tidak selera makan
(anoreksia), mual, muntah, mulut terasa kering, rasa lelah, napas berbau (
ureum ), dan gatal pada kulit.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang ( PQRST )
Mengkaji keluhan kesehatan yang
dirasakan pasien pada saat di anamnesa meliputi palliative, provocative,
quality, quantity, region, radiaton, severity scala dan time.
Untuk kasus gagal ginjal kronis,
kaji onet penurunan urine output, penurunan kesadaran, perubahan pola nafas,
kelemahan fisik, adanya perubahan kulit, adanya nafas berbau ammonia, dan
perubahan pemenuhan nutrisi. Kaji pula sudah kemana saja klien meminta
pertolongan untuk mengatasi masalahnya dan mendapat pengobatn apa.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Kaji
adanya penyakit gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, payah jantung,
penggunaan obat-obat nefrotoksik, Benign prostatic hyperplasia, dan
prostektomi. Kaji adanya riwayat penyakit batu saluran kemih, infeksi system
prkemihan yang berulang, penyakit diabetes mellitus, dan penyakit hipertensi
pada masa sebelumnya yang menjadi predisposisi penyebab. Penting untuk dikaji
mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi
terhadap jenis obat kemudian dokumentasikan.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji ada atau tidak salah satu
keluarga yang mengalami penyakit yang sama. Bagaimana pola hidup yang biasa di
terapkan dalam keluarga, ada atau tidaknya riwayat infeksi system perkemihan yang berulang dan riwayat alergi, penyakit
hereditas dan penyakit menular pada keluarga.
6. Riwayat Psikososial
Adanya
perubahan fungsi struktur tubuh dan adanya tindakan dialysis akan menyebabkan
penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Lamanya perawatan, banyaknya
biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan, gangguan
konsep diri ( gambaran diri ) dan gangguan peran pada keluarga.
7. Lingkungan dan tempat tinggal
Mengkaji
lingkungan tempat tinggal klien, mengenai kebersihan lingkungan tempat tinggal,
area lingkungan rumah, dll.
Pemeriksaan
Fisik
1. Keadaan umum dan TTV
Ø Keadaan umum : Klien lemah dan
terlihat sakit berat
Ø Tingkat Kesadaran : Menurun sesuai
dengan tingkat uremia dimana dapat mempengaruhi system saraf pusat
Ø TTV : Sering didapatkan adanya
perubahan RR meningkat, tekanan darah terjadi perubahan dari hipertensi ringan
sampai berat
2. Sistem Pernafasan
Klien
bernafas dengan bau urine (fetor uremik), respon uremia didapatkan adanya
pernafasan kussmaul. Pola nafas cepat dan dalam merupakan upaya untuk melakukan
pembuangan karbon dioksida yang menumpuk di sirkulasi
3. Sistem Hematologi
Pada
kondisi uremia berat tindakan auskultasi akan menemukan adanya friction rub
yang merupakan tanda khas efusi pericardial. Didapatkan tanda dan gejala gagal
jantung kongestif, TD meningkat, akral dingin, CRT > 3 detik, palpitasi,
nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama jantung, edema penurunan
perfusiperifer sekunder dari penurunan curah jantungakibat hiperkalemi, dan
gangguan kondisi elektrikal otot ventikel.
Pada
system hematologi sering didapatkan adanya anemia. Anemia sebagai akibat dari
penurunan produksi eritropoetin, lesi gastrointestinal uremik, penurunan usia
sel darah merah, dan kehilangan darah, biasanya dari saluran GI, kecenderungan
mengalami perdarahan sekunder dari trombositopenia.
4. System Neuromuskular
Didapatkan
penurunan tingkat kesadaran, disfungsi serebral, seperti perubahan proses
berfikir dan disorientasi. Klien sering didapatkan adanya kejang, adanya
neuropati perifer, burning feet syndrome, restless leg syndrome, kram otot, dan
nyeri otot.
5. Sistem Kardiovaskuler
Hipertensi
akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan aktivitas system rennin-
angiostensin- aldosteron. Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis, efusi
pericardial, penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini,
dan gagal jantung akibat penimbunan cairan dan hipertensi.
6. Sistem Endokrin
Gangguan
seksual : libido, fertilisasi dan ereksi menurun pada laki-laki akibat produksi
testosterone dan spermatogenesis yang menurun. Sebab lain juga dihubungkan
dengan metabolic tertentu. Pada wanita timbul gangguan menstruasi, gangguan
ovulasi sampaiamenorea.
Angguan
metabolism glukosa, resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pada gagal
ginjal yang lanjut (klirens kreatinin < 15 ml/menit) terjadi penuruna klirens metabolic insulin
menyebabkan waktu paruh hormon aktif memanjang. Keadaan ini dapat menyebabkan
kebutuhan obat penurunan glukosa darah akan berkurang. Gangguan metabolic
lemak, dan gangguan metabolism vitamin D.
7. Sistem Perkemihan
Penurunan
urine output < 400 ml/ hari sampai anuri, terjadi penurunan libido berat
8. Sistem pencernaan
Didapatkan
adanya mual dan muntah, anoreksia, dan diare sekunder dari bau mulut ammonia,
peradangan mukosa mulut, dan ulkus saluran cerna sehingga sering di dapatkan
penurunan intake nutrisi dari kebutuhan.
9. Sistem Muskuloskeletal
Di
dapatkan adanya nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki (memburuk
saat malam hari), kulit gatal, ada/ berulangnya infeksi, pruritus, demam (
sepsis, dehidrasi ), petekie, area ekimosis pada kulit, fraktur tulang, deposit
fosfat kalsium pada kulit jaringan lunak dan sendi, keterbatasan gerak sendi.
Didapatkan
adanya kelemahan fisik secara umum sekunder dari anemia dan penurunan perfusi
perifer dari hipertensi.
3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan
dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan dan natrium
2. Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan
perubahan membrane mukosa mulut.
3. Gangguan integritas kulit
berhubungan dengan gangguan status metabolic, sirkulasi,sensasi, penurunan
turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi ureum dalam kulit.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur
5. Gangguan konsep diri ( gambaran diri
) berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh, tindakan dialysis, koping
maladaptif
6. Kurangnya pengetahuan tentang
kondisi , prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya
informasi.
3.3 Perencanaan Keperawatan
1. Diagnosa Keperawatan : Kelebihan volume cairan berhubungan
dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan dan natrium
Tujuan : Mempertahankan berat tubuh ideal
tanpa kelebihan cairan
Kriteria Hasil : Klien tidak sesak nafas, edema
ekstermitas berkurang, piting edema (-), produksi urine > 600ml/hr
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
· Kaji status cairan :
a.
Timbang
berat badan harian
b. Keseimbangan masukan dan
pengeluaran
c.
Turgor
kulit dan adanya edema
d. Distensi vena leher
e.
Tekanan
darah, denyut dan irama nadi
· Batasi masukan cairan
· Identifikasi sumber potensial
cairan :
a.
Medikasi
dan cairan yang digunakan untuk pengobatan : oral dan intravena
b. Makanan
· Jelaskan pada pasien dan keluarga
rasional pembatasan
·
Bantu
pasien dalam menghadapi ketidak nyamanan dalam pembatasan cairan
· Tingkatkan dan dorong hygiene oral
dengan sering
Kolaborasi :
·
Berikan
diuretic, contoh : furosemide, spironolakton, hidronolakton
·
Adenokortikosteroid,
golongan prednisone
·
Lakukan
dialisis
|
· Pengkajian merupakan dasar dan
data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi
· Pembatasan cairan akan menentukan
berat tubuh ideal, keluaran urine, dan respon terhadap terapi
· Sumber kelebihan cairan yang tidak
diketahui dapat diidentifikasi
· Pemahaman meningkatkan kerjasama
pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan
·
Kenyamanan
pasien meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan diet.
·
Higiene
oral mengurangi kekeringan membrane mukosa mulut
·
Diuretic
bertujuan untuk menurunkan volume plasma dan menurunkan retensi cairan di jaringan
sehingga menurunkan resikoterjadinya edema paru
·
Adenokortikosteroid,
golongan predison digunakan untuk menurunkan proteinuri
·
Dialysis
akan menurunkan volume cairan yang berlebih.
|
2. Diagnosa Keperawatan : Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan
perubahan membrane mukosa mulut.
Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi yang
adekuat
Kriteria Hasil : Mempertahankan / meningkatkan berat
badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu, bebas edema.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
· Kaji status nutrisi :
a.
Perubahan
berat badan
b. Pengukuran antopometrik
c.
Nilai
laboratorium (elektrolit seru, BUN, kreatinin, protein,transferin, dan kadar
besi)
·
Kaji
pola diet nutrisi pasien :
a.
Riwayat
diet
b. Makanan kesukaan
c.
Hitung
kalori
· Kaji faktor yang berperan dalam
merubah masukan nutrisi :
a.
Anoreksia,
mual, atau muntah
b. Diet yang tidak menyenangkan bagi
pasien
c.
Depresi
d. Kuran memahami pembatasan diet
e.
Stomatitis
·
Menyediakan
makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet
· Tingkatkan masukan protein yang mengandung
nilai biologis tinggi seperti : telur, produk susu, dan daging
· Anjurkan camilan tinggi kalori,
rendah protein, rendah natrium, diantara
waktu makan
·
Ciptakan
lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan
·
Timbang
berat badan harian
·
Kaji
bukti adanya masukan protein yang tidak adekuat
a.
Pembentukan
edema
b. Penyembuhan yang lambat
c.
Penurunan
kadar albumin serum
|
· Menyediakan data dasar untuk
memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi
· Pola diet dahulu dan sekarang
dapat dipertimbangkan dalam menyusun menu
· Menyediakan informasi mengenai
faktor lain yang dapat diubah atau dihilangkan untuk meningkatkan masukan
diet
·
Mendorong
peningkatan masukan diet
· Protein lengkap diberikan untuk
mencapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
penyembuhan
·
Mengurangi
makanan dan protein yang dibatasi dan menyediakan kalori untuk energy,
membagi protein untuk pertumbuhan dan pertumbuhan jaringan
·
Faktor
yang tidak menyenangkan yang berperan menimbulkan anoreksia dihilangkan.
·
Untuk
memantau status cairan dan nutris
·
Masukan
protein yang tidak adekuat dapat menyebabkan penurunan albumin dan protein
lain, pembentukan edema, dan perlambatan penyembuhan
|
3.
Diagnosa Keperawatan :. Gangguan integritas kulit
berhubungan dengan gangguan status metabolic, sirkulasi,sensasi, penurunan
turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi ureum dalam kulit.
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas
kulit
Kriteria Hasil :
Kulit tidak kering, hiperpigmentasi berkurang, memar pada kulit
berkurang
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
· Kaji terhadap kekeringan kulit,
pruritis, ekskoriasi, dan infeksi
· Kaji terhadap adanya petekie dan
purpura
· Monitor lipatan kulit dan area
yang edema
· Gunting kuku dan pertahankan kuku
terpotong pendek dan bersih
Kolaborasi :
·
Berikan
pengobatan antipruritis sesuai
pesanan.
|
· Perubahan mungkin disebabkan oleh
penurunan aktivitas kelenjar keringat atau pengumpulan kalsium dan posfat
pada lapisan kutaneus.
·
Perdarahan
yang abnormal sering dihubungkan dengan penurunan jumlah dan fungsi platelet
akibat uremia
· Area-area ini sangat mudah
terjadinya injuri
· Penurunan curah jantung
mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi natrium / air, dan penurunan
urine output.
· Mengurangi stimulus gatal pada
kulit
|
4.
Diagnosa Keperawatan : Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialysis.
Tujuan : Berpartisipasi dalam aktivitas yang
dapat ditoleransi
Kriteria Hasil :
Meningkatkan rasa sejahtera, dan dapat berpartisipasi dalam aktivitas
perawatan mandiri yang dipilih
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
· Kaji faktor yang menimbulkan
keletihan :
a.
Anemia
b. Ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit
c.
Retensi
produk sampah
d. Depresi
· Tingkatkan kemandirian dalam
aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi, bantu jika keletihan terjadi
· Anjurkan aktivitas alternative
sambil istirahat
· Anjurkan untuk beristirahat
setelah dialysis
|
· Menyediakan informasi tentang
indikasi tingkat keletihan
· Meningkatkan aktivitas
ringan/sedang dan memperbaiki harga diri
· Mendorong latihan dan aktivitas
dalam batas-batas yang dapat ditoleransi dan istirahat yang adekuat
· Istirahat yang adekuat dianjurkan
setelah dialysis yang bagi banyak pasien sangat melelahkan.
|