BULIMIA NERVOSA
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Bulimia nervosa
merupakan kondisi psikiatri yang mempengaruhi banyak remaja dan wanita dewasa
muda. Gangguan tersebut adalah karakeristik makan sebanyak-banyaknya dan tahap
akhir dari proses makannya dengan memuntahkan apa yang dimakan dan
dapatmenyebabkan komplikasi medis. Dengan demikian, pasien dengan bulimia
nervosa sering hadirdalam keadaan perawatan primer.Penanda bulimia nervosa yang
berguna dalam membuatdiagnosis yaitu pemeriksaan fisik dan laboratorium.Di
Amerika Serikat, gangguan makanmempengaruhi 5 sampai 10 juta orang, terutama
wanita muda antara usia 14 dan 40 tahun. Namun, bulimia nervosa adalah gangguan
umum yang lebih sulit untuk mengidentifikasi dalam pengaturan perawatan
primer.Pada artikel ini, kami memberikan tinjauan tentang bulimia nervosa,
terkait uji fisik dan laboratorium, temuan, dan diagnostik strategi yang
berkaitan dengan praktek perawatan primer.
Dahulu bulimia
nervosa termasuk dari varian anoreksia nervosa (Russell pada tahun 1979).
Namun, karena lebih banyak penelitian telah dilakukan dan lebih pasien yang
menderita bulimia nervosa telah diidentifikasi, bulimia nervosa dan anorexia
nervosa yang sekarang dikenal sebagai 2 sindrom yang berbeda. Menurut
Diagnostik dan Statistik Manual untuk Gangguan Mental, Edisi Keempat (DSM-IV),
bulimia nervosa ditandai dengan episode berulang dari pesta makan diikuti
dengan 1 atau lebih perilaku kompensasi untuk menghilangkan kalori (muntah,
obat pencahar, puasa, dll) yang terjadi rata-rata minimal dua kali seminggu
selama 3 bulan atau lebih. pasien yang tidak memenuhi kriteria frekuensi atau
panjang dapat didiagnosis dengan DSM IV gangguan makan yang tidak disebutkan
secara spesifik. Bulimia nervosa juga digambarkan menjadi 2 subtipe yang
berbeda: pembersihan dan tidak dibersihkan. Dengan subtipe membersihkan, pasien
melakukan beberapa metode untuk menghilangkan makanan binged dari tubuh mereka.
Hal ini yang paling sering dilakukan dengan menginduksi diri agar muntah tetapi
bisa termasuk penyalahgunaan laksatif, enema, atau diuretik.bulimia nonpurging
menggunakan latihan puasa atau berlebihan sebagai kompensasi utama untuk binges
tetapi tidak secara teratur membersihkan. Terlepas dari subtipe, pasien
penderita bulimia memiliki evaluasi negative sel, menempatkan kepentingan tidak
pantas di berat badan dan citra tubuh.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang ada pada pembuatan makalah
ini adalah sebagai berikut :
1. Apa
sesungguhnya definisi dari Bulimia
Nervosa itu sendiri ?
2. Bagaimana
epidemiologi serta etiologi dari Bulimia
Nervosa?
3. Apa faktor resiko dari Bulimia Nervosa ?
4. Manifestasi
klinik pada Bulimia Nervosa?
5. Bagaimana
diagnosis dari Bulimia Nervosaitu
sendiri ?
6. Bagaimana
perjalanan penyakit dan prognosisnya ?
7. Serta
penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada Bulimia
Nervosa?
C. TUJUAN DAN
MANFAAT PENULISAN
Adapun tujuan dan manfaat penulisan pada pembuatan
makalah ini adalah agar semua mahasiswa dapat mengetahui secara lebih mendetail
mengenai apa sesungguhnya definisi dari Bulimia Nervosa itu sendiri, bagaimana
epidemiologi serta etiologi dari Bulimia Nervosa, manifestasi klinik & pengobatan
yang dapat dilakukan padaBulimia Nervosa, bagaimana diagnosis dari gangguan
somatoform itu sendiri, bagaimana perjalanan penyakit dan prognosisnya, serta
penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada Bulimia Nervosa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISi
Bulimia nervosa merupakan satu gangguan fungsi makan
yang ditandai oleh episode nafsu makan yang lahap tanpa dapat dikendalikan,
diikuti dengan muntah yang disengaja atau upaya pencahar lain yang dimaksudkan
untuk mencegah meningkatnya berat badan.
Bulimia nervosa adalah gangguan makan dengan
makanan kecanduan sebagai mekanisme utama. Kriteria untuk diagnosis bulimia
mencakup episode rekuren pesta makan, rasa kurangnya kontrol, evaluasi diri
terlalu dipengaruhi oleh berat badan atau bentuk tubuh, dan berulang dan
perilaku kompensasi yang tidak tepat dua kali seminggu selama 3 bulan atau
lebih (muntah, penggunaan pencahar atau diuretik, puasa, olahraga berlebihan).
B.EPIDEMIOLOGI
Bulimia nervosa lebih sering ditemukan pada
wanita dibandingkan pada laki-laki, tetapi onsetnya lebih sering pada masa
remaja dibandingkan pada masa dewasa awal.Diperkirakan bulimia nervosa
terentang dari 1-3 persen wanita muda.
Banyak penderita bulimia nervosa memiliki berat
badan yang normal dan kelihatannya tidak ada masalah yang berarti dalam
hidupnya.Biasanya mereka orang-orang yang kelihatannya sehat, sukses di
bidangnya dan cenderung perfeksionis.Namun, dibalik itu, mereka memiliki rasa
percaya diri yang rendah dan sering mengalami depresi.Mereka juga menunjukkan
tingkah laku kompulsif, Bulimia nervosa sering terjadi pada orang dengan angka
gangguan mood dan gangguan pengendalian impuls yang tinggi.Juga telah
dilaporkan terjadi pada orang yang memiliki resiko gangguan berhubungan dengan
zat dan gangguan kepribadian, memiliki angka gangguan kecemasan dan gangguan
dissosiatif yang meningkat dan riwayat penyiksaan seksual.
C.ETIOLOGI
1. Faktor Biologis :
Beberapa peneliti berupaya menghubungkan perilaku
makan berlebihan dan mengeluarkannya kembali dengan beberapa
neurotransmitter.Oleh karena antidepresan sering bermanfaat bagi penderita
bulimia nervosa dan serotonin dikaitkan dengan perasaan puas, serotonin dan
norepinefrin telah dilibatkan disini. Oleh karena kadar endrfin plasma meningkat
pada pasien bulimia nervosa yang muntah , perasaan nyaman setelah muntah yang
dialami beberapa pasien ini mungkin di perantarai oleh meningkatnya kadar
endorphin . Menurut DSM-IV-TR, terdapat peningkatan frekuensi bulimia nervosa
pada kerabat derajat pertama orang dengan gangguan ini
2. Faktor Sosial :
Pasien Bulimia nervosa,seperti pasien anoreksia
nervosa, cenderung memiliki standar yang tinggi dan memberikan respon terhadap
tekanan social yang menuntut orang untuk ramping. Seperti pada pasien anoreksia
nervosa, banyak pasien bulimia nervosa yag mengalami depresi dan depresi
familial yang meningkat , tetapi keluarga pasien bulimia nervosa umumnya kurang
dekat dan lebih memiliki konflik dibandingkan keluarga passion anoreksia
nervosa. Pasien bulimia nervosa menggambarkan orang tuanya sebagai orang tua
yang mengabaikan dan lalai.
3. Faktor Psikologis
Pasien bulimia nervosa biasanya merasakan makan
yang tidak terkendali yang dilakukan sebagai egodistoni.Kesulitan yang dimiliki
pasien ini dalam mengendalikan impuls seringkali dimanifestasikan dengan makan
yang berlebihan dan mencahar.
D.FATOR RESIKO
·
Gender , wanita > laki laki
·
Ras/etnis
·
Pelecehan seksual saat anak – anak
·
Tinggal sendirian
·
Kontrol glikemik yang buruk
·
Diet
·
Perasaan Rendah diri
·
Pekerjaan yang berfokus pada berat badan
·
Keterlibatan dengan atletik
·
Kebiasaan makan & masalah saluran
pencernaan
·
Media, baik cetak maupun elektronik
E.MANIFESTASI KLINIS
Ø Makan dalam jumlah yang berlebihan.
Ø Terobsesi dengan makanan dan kalori.
Ø Melakukan perangsangan muntah dan cuci perut.
Ø Sering menghilang ke kamar mandi bila selesai
makan, untuk mengeluarkan makanan – makanan yang telah ditelan.
Ø Bersikap penuh rahasia.
Ø Merasa kehilangan kontrol.
F. DIAGNOSIS
Diagnosis
pasti gangguan somatisasi berdasarkan PPDGJ III:
a)
Terdapat preokupasi yang menetap untuk makan , dan
ketagihan (craving) terhadap makanan yang tidak bisa dilawan; penderita tidak
berdaya terhadap datangnya episode makan berlebihan dimana makanan dalam jumlah yang besar
dimakan dalam waktu yang singkat.
b)
Pasien berusaha melawan efek kegemukan dengan salah satu
atau lebih cara seperti berikut :
§ Merangsang
muntah oeh diri sendiri,
§ Menggunakan
pencahar berlebihan,
§ Puasa
berkala,
§ Memakai obat
obatan seperti penekan nafsu makan ,sediaan tiroid atau diuretika. Jika terjadi
pada penderita diabetes, mereka akan mengabaikan pengobatan insulinnya.
c)
Gejala psikopatologinya terdiri dari ketakutan yang luar
biasa akan kegemukkan dan penderita mengatur sendiri batasan yang ketat dari
ambang berat badannya, sangat dibawah berat badan sebelum sakit dianggap berat
badan yang sehat atau optimal.
Seringkali,
tetapi tidak selalu, ada riwayat anoreksia nervosa sebelumnya, interval antara
kedua gangguan tersebut berkisar antara beberapa bulan sampai beberapa tahun.
Episode sebelumnya ini dapat jelas terungkap, atau dalambentuk ringan yang
tersembunyi dengan kehilangan berat badan yang sedang dan atau sutu fase
sementara dari amenore.
v Bulimia
nervosa harus dibedakan dari gangguan depresif, walaupun penderita bulimia
sedang mengalami gejala-gejala depresi.
Diagnosis
Banding
Diagnosis bulimia nervosa tidak dapat ditegakkan jika
perilaku makan berlebihan dan memuntahkan kembali hanya terjadi dalam episode
anoreksia nervosa . pada kasus seperti ini diagnosis nya adalah anoreksia
nervosa m tipe makan berlebihan / mengeluarka kembali (binge-eating/purging
type)
Klinisi harus memastikan bahwa pasien tidak memiliki
penyakit neurologis seperti bangkitan epileptik-ekuivalen , tumor sistem saraf
pusat (SSP)/sindrom kluver-bucy, atau sindrome Kleine-Levin
G. PERJALANAN
PENYAKIT DAN PROGNOSIS
Dengan cepat, pasien bulimia nervosa yang mampu menjalani
terapi dilaporkan mengalami lebih dari 50 persen perbaikan perilaku makan
berlebihan dan mengeluarkan kembali ; diantara pesien rawat jalan,perbaikan
tampaknya berlangsung lebih dari 5 tahun. Meskipun demikian, pasien tdak bebas
gejala selama periode perbaikan; bulimia nervosa merupakan gangguan kronis
dengan perjalanangangguan yang maju mundur. Beberapa pasien dengan perjalanan
gangguan ringan mengalami masa remisi jangka panjang , pasien lain menjadi
lemah akibat gangguan ini dan dirawat di rumah sakit; kurang dari sepertiga
pasien yang baik baik saja pada pemantauan lanjutan 3 tahun, lebih dari
sepertiga yang mengalami perbaikan gejala, dan kira kira sepertiganya memiliki
hasil buruk dengan gejala kronis dalam 3 tahun. Pada studi terkini dalam 5
hingga 10 tahun, kira kira setengah pasien pulih sempurna dari gangguan ini,
sedangkan 20 persennya terus memenuhi seluruh kriteria diagnostik bulimia
nervosa.
Progosis bergantung pada keparahan gejala sisa
mengeluarkan makanan sisa kembali-yaitu apakah pasien mengalami
ketidakseimbangan elektrolit , dan sampai derajat berapa seringnya muntah
menyebabkan esofagitis,amilasemia,pembesaran kelenjar saliva, dan karies gigi.
Pada beberapa kasus bulimia nervosa yang tidak diterapi, remisi spontan terjadi
dalam 1 hingga 2 tahun.
H. PENATALAKSANAAN
v PSIKOTERAPI
Ø TERAPI PERILAKU KOGNITIF
Terapi perilaku kognitif harus dipertimbangkan sebagai acuan ,tetapi lini
pertama bulimia nervosa :
Menghentikan siklus perilaku makan
berlebihan dan diet yang dipertahankan sendiri.
Mengubah kognisi dan keyakinan seseorang yang mengalami disfungsi mengenai
makanan , berat dan bentuk tubuh , serta konsep diri secara keseluruhan.
Ø PSIKOTERAPI DINAMIK
Terapi psikodinamik mengungkapkan adanya kecenderungan mewujudkan defensi
intojeksi dan proyeksi. Di dalam sikap yang serupa dengan pemisahan. Makanan
yang bergizi mungkin dipertahankan karena secara tidak sadar menyimbolkan
introjeksi yang baik , sedangkan makanan “sampah” secara tidak sadar dikaitkan dengan
introjeksi buruk sehingga dikeluarkan dengan cara muntah, dan khayalan tidak
disadari bahwa semua kerusakan, kebencian, dan keburukan ,sedang disingkirkan.
Pasien sementara dapat merasa baik setelah muntah karena evakuasi khayalan
tetepi perasaan terkait akan “semuanya baik” berlangsung singkat karena
didasarkanpada kombinasi yang tidak stabil antara pemisahan dan proyeksi.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mempertahankan keadaan yang
sudah membaik :
• Setelah pengobatan biasanya pasien akan mengulangi kebiasaannya
untuk makan lagi, maka kita jangan menentangnya, tapi kita anggap bahwa hal itu
merupakan respon yang fisiologis.
• Agar pasien mau makan, maka kita katakankepadanya bahwa rasa lapar
yang timbul itu, karena tubuhnya memerlukan nutrisi.
• Kalau pengobatan berhasil, maka pasien akan
mengurangi ketergantungan terhadap kebiasaan jeleknya dan gejala depresinya
akan teratasi, ini dapat berlangsung untuk beberapa bulan. Oleh karena
kebiasaan makan yang jelek pada bulimua nervosa ini mudah berulang kembali,
maka pengobatan yang paling efektif adalah dengan memberikan rasa paercaya diri
kepada pasien terhadap penampilan dan berat badannya.
v FARMAKOTERAPI
Antidepresan, termasuk tetrasiklik (Tofranil), Serotonin spesipik re –
uptake inhibitor (SSRI) (fluoksetin (prozac)) dan penghambat monoamin oksidase
(MAOI) (fenelzin (Nardil)) bermamfaat untuk mengobati depresi pada buklimia
nervosa.
Semua obat itu digunakan sebagai bagian dari
suatu program therapi yang menyeluruh dengan psikotherapi.Khusus bagi pasien
dengan cemas dan agitasi dapat diberikan lorazepam (Ativan) 1-2 mg per oral
atau IM.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Bulimia Nervosa adalah penyakit yang akan sering
kita jumpai dalam dunia klinis dan Bulimia Nervosa adalah penyakit yang bisa
disembuhkan dengan baik. Bulimia Nervosa biasanya ditandai dengan memakan
makanan yang jauh lebih banyak dari porsi biasanya.Pasien dengan kondisi
seperti ini biasanya memiliki berat badan yang naik turun dalam batas normal
berat badan manusia. Perangsangan muntah
yang biasa dilakukan oleh penderita bulemia biasanya dapat menyebabkan :
1.Sialadenosis
2.Enamel erosion
3.Calous middle phalanges
Pasien dengan Bulimia Nervosa biasanya juga
mengalami abnormalitas pada keseimbangan cairan dan asam basa tubuhnya.Bulimia
Nervosa biasanya dikaitkan juga dengan keadaan depresi, gangguan personality,
penyalahgunaan (seperti penyalahgunaan obat atau alkohol), percobaan bunuh diri
dan masalah– masalah keluarga yang terjadi dalam kehidupannya.
Pada dasarnya penyakit Bulimia Nervosa bisa
disembuhkan dengan baik, apalagi ketika bias didiagnosa dengan dini maka dapat
diobati dan disembuhkan dengan baik.
Rata– rata secara umum pasien
bulemia bisa diobati dengan fluoxetine dan CBT, namun demikian pengobatan yang
baik yaitu dengan deteksi sedini mungkin penyakit ini dan pencegahan kebiasaan
dalam makan yang biasa terjadi pada pasien Bulimia Nervosa. Hal penting lainnya
adalah penanganan phisiologi yang penting biasanya dilakukan pada pasien– pasien
yang memiliki gangguan makan dan memiliki gangguan berat badan, pada pasien
seperti ini pengobatan awal biasanya perlu dilakukan .
DAFTAR PUSTAKA
Kaplan, H.I., Sadock B.J.: Sinopsis Psikiatri, Jilid II,
Edisi ke-7, Binarupa Aksara, Jakarta, 1997: hal:333-335.
Maslim, R.: Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan
Ringkas dari PPDGJ III, Jakarta, 2001, hal:91.
UI M.Makalah
Jurnal Reading BUlimia Nervosa.from
http://www.scribd.com/doc/97428618/A-makalah-Jurnal-bulimia-nervosa, 08 mei
2013
0 komentar:
Posting Komentar